Senin, 03 November 2014
ini tugas ku, love indonesian language
SINOPSIS
“LANGIT LANGIT CINTA”
Novel ini menceritakan tentang kehidupan seorang mahasiswa kedokteran di kota Thanta yang bernama Abdul Mughits Al-fararji, Al-fararji adalah nama ayahnya Abdul Mughits yang berada di desa Hamidiya, Al-fararji hanyalah seorang petani, semua harta kesayangannya seperti tanah yang luasnya hanya beberapa hektar ia jual hanya untuk membiayai kuliahnya Abdul Mughits, Abdul Mughits meringankan beban ayahnya dengan cara ia bekerja paruh waktu disebuah toko buku untuk membiayai kuliahnya sendiri. Ia adalah seorang pemuda yang cerdas hal itu terbukti bahwa ia selalu lulus dalam ujian, namun dunianya berubah setelah ia tidak lulus dalam ujian penentu menjadi seorang dokter, ia seperti orang gila setelah kejadian itu, ia sering tertawa, menangis dan berteriak teriak sendiri, bahkan yang paling parah adalah ketika ia mencoba untuk bunuh diri dengan cara terjun dari jendela kamarnya, namun hal itu tidak pernah terjadi karena Abdul Mughits memiliki seorang sahabat yang selalu memberikannya semangat agar Abdul Mughits mampu bangkit dari kegagalannya, nama sahabatnya itu adalah Radhi, seringkali Radhi menghibur Abdul Mughits bahwa ia akan mampu menghadapi kegagalannya itu, namun Abdul Mughits tidak pernah menggubris motivasi yang diberikan Radhi, Radhi mencoba memberi tahu tunangannya Abdul Mughits yang bernama Rihab agar Rihab memberikan motivasi kepada Abdul Mughits.
Seorang dosen yang bernama Wafiq Jabaabullah dicurigai telah memasulkan sejumlah nilai mahasiswa, sehingga menyebabkan banyak mahasiswa yang tidak lulus ujian, sejumlah besar mahasiswa melakukan demo terhadap pihak fakultas, pihak fakultas pun menenangkan mahasiswa tersebut dengan cara membentuk tim yang bertugas untuk menyelidiki penyebab ketidaklulusan sejumlah mahasiswa tersebut. Rihab mengajak Abdul Mughits mengirimkan surat permohonan pemeriksaan ulang lembar ujian kepada pihak Fakultas, rupanya Abdul Mughits memiliki sebuah ide gila, ia tidak mengirimkan surat kepada pihak fakultas, melainkan ia berteriak teriak dikampus bahwa pihak fakultas telah melakukan tindakan kezaliman, hal itu pun membuat Abdul Mughits diamankan oleh pihak keamanan kampus, Rihab meyakinkan pihak keamanan bahwa Abdul Mughits tidak akan membuat kegaduhan dikampus lagi. Semenjak hari itu Abdul Mughits tidak mau berbicara lagi kepada Rihab.
Al-fararji mendengar berita bahwa Abdul Mughits tidak lulus dalam ujian, Al-fararji pun segera pergi ke kota Thanta untuk memberikan semangat kepada Abdul Mughits, ia meyakinkan Abdul Mughits bahwa peristiwa itu adalah yang terbaik untuknya, Al-fararji juga menyampaikan pesan dari Tufaha yakni ibunya Abdul Mughits bahwa Allah akan selalu bersamanya, hati Abdul Mughits tenang setelah mengetahui bahwa ayahnya tidak kecewa kepadanya, Abdul Mughits pun mampu bangkit dari kegagalannya itu. Namun kondisi kejiwaan Abdul Mughits kembali memburuk setelah ia mengetahui bahwa pihak fakultas tidak melakukan apapun untuk membantu meluluskan mahasiswa, Abdul Mughits menelan obat sejenis falium dengan dosis yang sangat banyak, hal itupun membuat Abdul Mughits keracunan, ia pun dilarikan kerumah sakit Damanhur. Sebuah berita yang membahagiakan terjadi di kampus, pihak fakultas telah memperbaiki nilai semua mahasiswa dan membuat lulusnya sejumlah mahasiswa termasuk Abdul Mughits, ketika Abdul Mughits mengetahui bahwa ia telah dinyatakan lulus, Abdul Mughits pun bersyukur atas kelulusannya, dan ia pun bertobat tidak akan mengulangi percobaan bunuh diri lagi.
Abdul Mughits pulang ke desa Hamidiya dengan membawa sebuah gelar dokter dari kota Thanta, Abdul Mughits disambut oleh penduduk desa Hamidia termasuk kepala desanya yang bernama Haji Mutawalli, untuk pertama kalinya Haji Mutawalli masuk kerumah Al-fararji, Haji Mutawalli membicarakan berbagai topik mulai dari masalah politik hingga kesehatan, puncaknya adalah ketika Haji Mutawalli mengenalkan seorang gadis yang bernama Malika, Malika adalah puri Haji Mutawalli, semula Abdul Mughits menolak lamaran tersebut karena ia telah memiliki seorang tunangan. Bunga bunga cinta tumbuh bermekaran dihati Abdul Mughits setelah ia melihat Malika yang berwajah cantik dengan mata kecokelatan, dan bibir yang merah delima.
Perubahan sikap terjadi pada diri Haji Mutawalli, ia sudah tidak suka lagi mengolok olok orang lain, ia juga sangat suka berada di masjid untuk mendengarkan ceramah, ternyata hal itu ia lakukan karena ia sangat bersyukur bahwa Malika akan segera menikah dengan Abdul Mughits yang memiliki perangai yang amat baik.
Abdul Mughits bersama Radhi bekerja di rumah sakit fakultas di unit penyakit dalam sedangkan Rihab diposisikan di Unit khusus wanita dan persalinan, Abdul Mughits bimbang karena ia harus memilih gadis yang akan dinikahinya, ia pun memutuskan untuk meminta nasehat kepada Radhi agar Radhi dapat memilihkan seorang gadis untuknya yaitu antara Malika dan Rihab, Radhi memutuskan agar Abdul Mughits menikahi Rihab karena Rihab adalah gadis yang setia, Abdul Mughits berjanji kepada Radhi bahwa ia akan menikahi Rihab
Pernikahan Malika dengan Abdul Mughits menjadi buah bibir di desa Hamidiya, ada yang mendukung pernikahan tersebut dengan alasan bahwa harta dari Haji Mutawalli akan berpindah kepada Abdul Mughits, dan mereka pun mengira bahwa Abdul Mughits akan mengembalikan harta mereka. Ada pula yang menolak, mereka yang menolak berpendapat bahwa Haji Mutawalli tidak pantas mendapatkan menantu yang baik budinya.
Haji Mutawalli mengadakan pertemuan dengan sepupunya yang bernama Umda, Umda kecewa karena Haji Mutawwalli akan menikahkan Malika kepada seorang pemuda selain Ramadhan, Ramadhan adalah putranya Umda, Ramadhan memiliki perangai yang amat buruk, ia lebih suka menghamburkan uang untuk membeli ganja. Abdul Mughits duduk sedih setelah mendengar berita pertemuan antara Umda dan Haji Mutawalli, tapi Tufaha meyakinkan Al-fararji bahwa berita itu hanyalah dusta.
Haji Mutawalli, Istrinya dan Malika hendak pergi ke Hijaz, mereka pun berangkat ke kota Thanta untuk menyiapkan segala sesuatu yang diperlukan di Hijaz. Haji Mutawalli mengajak Abdul Mughits berkeliling pasar untuk membeli kain tenun, peci dan kain ihram, pikiran Abdul Mughits melayang layang, ia berjanji kepada Radhi akan menikahi Rihab, namun saat ia berada di pasar ia merasa bahwa Malika adalah tunangannya. Setelah mereka selesai berbelanja Malika ingin melihat rumah sakit tempat Abdul Mugits bekerja, mereka pun pergi kerumah sakit, hati Rihab hancur berkeping keping setelah ia mengetahui bahwa Abdul Mughits telah memiliki tunangan selain dirinya, Rihab pun memutuskan tali pertunangannya dengan Abdul Mughits.
Semua orang takut menyuarakan pendapatnya secara bebas, karena apabila perkataaan mereka menyinggung pemerintahan mereka pun akan dijebloskan ke penjara, namun hal itu tidak ditakutkan oleh sejumlah mahasiswa termasuk Radhi dan Rihab, mereka tetap menyuarakan ketidak adilan yang mereka terima sehingga membuat mereka dijebloskan kepenjara, Abdul Mughits sempat melarikan diri sehingga ia tidak sempat ditangkap, Abdul Mughits melarikan diri ke desa Hamidiya, ia bersikeras untuk segera menikahi Malika keinginan Abdul Mughits itupun disambut dengan bahagia oleh Haji Mutawalli, Abdul Mughits menikahi Malika di kota Thanta, mereka pergi saat malam hari untuk mengurangi kemacetan. Abdul Mughits mengatakan kepada Haji Mutawalli bahwa ia tidak menginginkan ada orang lain yang mengetahui keberadaannya termasuk ayah dan ibunya, pernikahan Malika dengan Abdul Mughits membuat Ramadhan marah, penduduk desa khawatir dengan bencana yang akan terjadi, Al-fararji berdoa agar ia selamat dari bencana tersebut, Haji Mutawalli segera meminta bantuan kepada Darwish Bey agar Darwish Bey mau melindungi keluarga Haji Mutawalli, namun Darwish Bey tidak dapat membantu, beberapa hari setelah Haji Mutawalli menemui Darwish Bey, ia mendengar berita bahwa Ramadhan telah di masukkan kepenjara dengan tuduhan pencurian ternak milik Al-fararji
Abdul Mughits bersembunyi dari pihak aparat kepolisian dirumah seorang pedagang dikota Zifti, Haji Mutawalli tidak sanggup menyerahkan Abdul Mughits kepada Darwish Bey karena ia sangat menyayangi Abdul Mughits, hingga suatu hari Abdul Mughits dan Haji Mutawalli meminta bantuaan kepada Darwish Bey, namun ternyata saat itu juga Abdul Mughits dipenjarakan oleh Darwish Bey. Malika menangis tersedu sedu setelah ia mengetahui bahwa suaminya telah dipenjara. Tufaha sangat merindukan Abdul Mughits sampai suatu malam Tufaha terbangun dari tidurnya, ia berteriak memanggil manggil Abdul Mughits, sedangkan Al-fararji tidak dapat tidur karena ia memikirkan keadaan anaknya yang tidak memberinya kabar sedikitpun.
Sebuah suara memanggil Abdul Mughits, ia pun segera dihadapkan kepada Darwish Bey, Darwish Bey membujuk Abdul Mughits agar ia mau menjadi mata mata tanah air, dengan iming iming ia akan dibebaskan, Abdul Mughits terkejut setelah melihat kondisi tubuh Radhi dan rihab yang dipenuhi dengan luka karena penganiayaan yang dilakukan oleh sipir di penjara itu, Darwish Bey menyuruh Abdul Mughits agar ia tidak menceritakan kejadian apapun yang dilihatnya dipenjara. Abdul Mughits pun berjanji tidak akan menceritakan kejadian apapun yang dilihatnya di dalam penjara.
Abdul Mughits dikeluarkan dari penjara, ia segera kembali ke desa Hamidiya kemudian ia menemui ayah dan ibunya, Tufaha sangat bersyukur karena Abdul Mughits sehat wal-afiat, setelah ia mengetahui bahwa Haji Mutawalli sakit ia pun segera menemui Haji Mutawalli, Haji Mutawalli merasa sehat ketika ia melihat Abdul Mughits telah keluar dari penjara.
Pesta pernikahan Abdul Mughits dan Malika diadakan dengan sangat meriah. Al-fararji pergi kekantor polisi untuk mencabut tuntutan pencurian ternak miliknya, Al-fararji tidak menuduh siapapun yang mencuri ternak miliknya. Ramadhan sangat ingin membunuh Haji Mutawalli, Al-fararji, dan Abdul Mughits, sehingga tidak ada yang dapat melindungi Malika selain dirinya, niatnya itu ia urungkan karena ia tidak ingin masuk penjara lagi
Azan berkumandang, seperti biasa Al-fararji pergi kemasjid untuk shalat subuh, Al-fararji sangat marah ketika ia melihat istrinya masih tertidur dengan pulas, rupanya itu adalah terakhir kalinya Al-fararji memarahi Tufaha, karena saat ia berjalan menuju masjid ia dibunuh dengan cara ditembak dengan pistol, penduduk desa hamidiya mengira bahwa kematian Al-fararji disebabkan oleh dendam seorang pemuda yang bernama Ramadhan.
Umda pulang kerumah lalu membentak Ramadhan, Umda marah karena Ramadhan telah membunuh Al-fararji, Ramadhan membunuh Al-fararji karena ia cemburu dengan Abdul Mughits yang telah menjadi suami Malika, tetapi ia tidak sanggup membunuh Abdul Mughits. Ramadhan mengancam Umda bahwa ia akan menyeret ayahnya kepenjara, seketika itu Umda terkena serangan jantung dan Umda pun meninggal dunia, sedangkan Ramadhan kabur dari rumah dan ia pun dituduh telah membunuh ayahnya sendiri.
Keberadaan Ramadhan masih belum diketahui, Haji Mutawalli membuat pengumuman dan akan memberikan hadiah kepada siapapun yang dapat menangkap Ramadhan, Haji Mutawalli memutuskan untuk meminta bantuan kepada Darwish Bey, namun Darwish Bey tidak dapat membantu karena ia sedang mengurusi peperangan yang akan terjadi. Abdul Mughits dikirim menuju daerah peperangan namun ia belum kembali juga walaupun peperangan telah usai, betapa marahnya Malika terhadap peperangan itu, iapun bersumpah akan menjadi teroris apabila terjadi sesuatu hal kepada Abdul Mughits.
Dokter Radhi, Rihab dan teman-temannya di bebaskan dari penjara, hal itupun membuat pihak rumah sakit merasa senang, semua orang mengucapkan selamat kepada Radhi dan Rihab atas kebebasan mereka, namun Abdul Mughits tidak datang kerumah sakit untuk mengucapkan selamat kepada mereka, setelah beberapa hari Radhi dan Rihab bekerja lagi di rumah sakit mereka pun mengetahui bahwa Al-fararji telah meninggal, mereka berniat akan mengucapkan belasungkawa kepada Tufaha dan menghibur Malika yang sedang hamil, rihab menghibur Tufaha, dan Radhi memberitahukan kondisi peperangan di Sinai untuk mengurangi kecemasan Malika terhadap Abdul Mughits
Malika melahirkan anaknya yang pertama, anaknya itu ia namai Basyir yang berarti kabar gembira, karena saat Malika melahirkan Basyir ia juga mendapatkan kabar bahwa Abdul Mughits dalam kondisi sehat wal-afiat, dan dalam deretan tawanan, sesuai daftar yang dibawa Palang Merah Internasional ke Mesir, Malika sangat senang mendengar berita tersebut hingga ia pun lupa sakit dan susahnya saat melahirkan
Abdul Mughits kembali ke hamidiya setelah terjadi pertukaran tawanan, Tufaha sangat merindukan Abdul Mughits, sehingga setelah Abdul Mughits tiba di Hamidiya Tufaha langsung memeluk Abdul Mughits dengan sangat erat, Abdul Mughits ingin melihat keadaan di kota Thanta, namun ia tidak mendapati perubahan yang mencolok disana, iapun kembali lagi ke desa Hamidiya.
Meluasnya minuman keras di Mesir membuat akhlak para remaja merosot tajam, bagi pihak yahudi itu adalah keuntungan besar yang mereka dapatkan, Malika membaca sebuah koran hingga matanya tertuju kepada foto pemasok minuman keras, di dalam foto itu ia sangat yakin bahwa itu adalah Ramadhan, namun keyakinannya mulai goyah ketika ia melihat nama dari foto tersebut bukan Ramadhan, Abdul Mughits memberitahukan Malika bahwa identitas itu dapat dipalsukan, Malika pun memahaminya.
Ramadhan memutuskan untuk tinggal di Terusan Zues, ia telah menikah dengan seorang gadis disana, ia menjalani kehidupan dengan sederhana yaitu dengan cara memerah susu onta, menyembelih domba, bernyanyi lagu lagu baduwi, berjoget tarian rakyat. Terkadang ia menyesali perbuatannya yang telah membunuh Al-fararji, ia pun meminum minuman keras untuk menghilangkan kenangan itu, dan akhirnya iapun mampu mengurangi kegelisahannya
Abdul Mughits mengajak Malika untuk merantau ke Negara Teluk dan bekerja disana, namun Malika menolaknya dengan alasan ia tidak mampu membesarkan Basyir sendiri, dan ia tidak siap meninggalkan ayah dan ibunya di Hamidiya, Al-fararji menceritakan kejadian itu kepada Radhi dan Rihab, Radhi tertawa mendengar cerita itu sedangkan Rihab hanya tersenyum, hingga suatu Hari Abdul Mughits iri dengan kepergian Radhi dan Rihab ke Bahrein, namun ia tidak dapat melakukan apa apa selain mengalah kepada Malika.
Abdul Mughits sibuk dengan pekerjaannya dirumah sakit dan klinik pribadi miliknya, namun ibunya sangat bosan tinggal dikota, Tufaha sangat ingin untuk kembali ke desa Hamidiya, namun ia tidak mampu meninggalkan Basyir yang merupakan cucu kesayangannya, Malika hamil anak kedua, Malika takut kalau Haji Mutawalli akan berlaku tidak adil dengan anaknya yang kedua, namun ternyata Haji Mutawalli berjanji akan bertindak adil kepada semua cucunya, tidak peduli walaupun cucunya itu adalah perempuan. Haji Mutawalli pulang ke desa Hamidiya, ia mendengar kabar bahwa Ramadhan meninggal dengan cara bunuh diri, Tufaha sangat merindukan makam suaminya, ia pun kembali ke desa Hamidiya dan mendirikan tenda untuk para pelayat yang akan mendoakan Al-fararji.
Kesehatan Haji Mutawalli semakin menurun seiring dengan usianya yang sudah tidak muda lagi, di usianya yang senja dia sudah tidak dapat berdagang dan tidak dapat mengurus pertaniannya lagi. Haji Mutawalli sangat senang menceritakan masa mudanya kepada seluruh anggota keluarga yang tinggal dirumahnya yaitu, Abdul Mughits, Malika, Ummu Malika, dan Basyir, seperti malam biasa Haji Mutawalli bercerita di ruang keluaraga, namun sebelum Haji Mutawalli hendak bercerita, rumahnya diketuk degan sangat keras oleh orang, dengan cepat Abdul Mughits membukakan pintu, ternyata yang datang adalah polisi, merekapun langsung menangkap Abdul Mughits, Abdul Mughits tidak dapat melakukan apapun ia hanya diam saat tangannya diborgol, sedangkan Malika berteriak histeris bahwa ia sangat menyesal tidak mau merantau ke Negara lain, ke esokan harinya Haji Mutawalli mencari Darwish Bey di kantor tempat Darwish Bey bekerja, namun ternyata Darwish Bey sudah dipensiunkan, Haji Mutawalli sudah tidak dapat melakukan apapun selain mengharap bantuan Allah SWT.
Langganan:
Komentar (Atom)