Kamis, 15 Mei 2014

Lirik Lagu Tum Hi Ho beserta maknanya Hum tere bin ab reh nahin sakte (Aku tanpamu kini tak dapat hidup) Tere bina kya wajood mera (Tanpamu apalah arti keberadaanku) Tujh se judaa gar ho jaayenge (Bila kelak aku berpisah denganmu) To khud se hi ho jaayenge judaa (Maka aku juga akan berpisah dari diriku) Kyonki tum hi ho (Karena hanya kamu) Ab tum hi ho (Kini hanya kamu) Zindagi ab tum hi ho (Kehidupanku kini hanya kamu seorang) Chain bhi, mera dard bhi (Ketenanganku jua, deritaku jua) Meri aashiqui ab tum hi ho (Romansaku kini hanya kamu seorang) *** Tera mera rishtaa hai kaisa (Seperti apa hubungan kita berdua) Ik pal door gawaara nahin (Tak dapat jauh barang sekejap saja) Tere liye har roz hain jeete (Untukmu setiap hari aku bertahan hidup) Tujhko diya mera waqt sabhi (Telah kuberikan seluruh waktuku kepadamu) Koi lamha mera naa ho tere bina (Tiada sedikitpun waktuku tanpa kehadiranmu) Har saans pe naam tera (Di tiap helaan napasku ada namamu) *** Tere liye hi jiya main (Hanya untukmu aku hidup) Khud ko jo yoon de diya hai (Telah kuserahkan diriku padamu seperti ini) Teri wafaa ne mujhko sambhaala (Kesetiaanmu lah yang telah menjagaku) Saare ghamon ko dil se nikaala (Menghapus seluruh duka dari dalam hati) Tere saath mera hai naseeb juraa (Bersamamu nasibku terjalin) Tujhe paake adhoora na raha (Setelah mendapatkanmu diriku menjadi sempurna)

Selasa, 25 Februari 2014

ini puisiku mana puisimu

"indahnya" 


Hari hariku kian sepi, setelah engkau pergi tinngalkanku
ku bagaikan pungguk merindukan bulannya 
tak ada yang mengetahui seberapa gilanya aku 
tak ada yang tahu seberapa dalamnya samudera 
tak ada yang tahu pula dasar hati ini untuk siapa untuk-Mu kah? atau untukmu?? 
kegelisahanku tak pernah pergi 
bagaikan jantung yang tak ingin berpisah dengan tuannya 
hingga detik ini, aku masih tak mrngerti akan indahnya cinta-Mu

Sabtu, 22 Februari 2014

contoh kalimat motivasi

hidupmu akan tetap baik jika kamu selalu berfikiran positif

contoh cerpen




Pemimpin Kodok
Pengarang: Anonim

Dahulu kala, ketika dunia masih sangat muda, ada sebuah kolam di tepi hutan. Di dalamnya tinggal ratusan ekor kodok yang bisa berbicara. Sungguh menyenangkan jika kita mengendap endap di balik pohon lalu mendengarkan mereka diam diam ketika mereka sedang berbicara dengan gembira.
Mereka berbicara terlalu banyak sehingga suatu saat mereka kehabisan bahan obrolan. Akhirnya mereka menjadi bosan tinggal di kolam yang sepi dan mereka menginginkan hiburan. Kodok kodok itu lalu berkumpul dan memutuskan bahwa mereka menginginkan seorang raja. Lalu mereka berdoa dengan suara nyaring bersahut sahutan agar mereka dipilihkan seorang raja.
Tiba tiba sebatang batang pohon jatuh dari langit. Batang pohon itu tercebur ke dalam kolam, air terciprat ke semua arah, menghujani ratusan kodok yang berlompatan ketakutan ke pinggir kolam. Sehari semalam kodok kodok itu bersembunyi di bawah daun teratai yang mengapung di permukaan kolam, tidak berani melangkah terlalu dekat dengan raja baru mereka. Seekor kodok yang paling berani di antara mereka lalu keluar dari tempat persembunyiannya. Dia mendekat dengan hati hati dan mengamati sang raja. Akhirnya yang lain ikut maju dan berenang hati hati di sekeliling batang pohon yang mengapung itu.
"Raja yang lucu," ucap seekor kodok menghina. Mereka akhirnya menyadari sang raja tidak bisa menolong atau memerintah mereka. Segera mereka berdoa lagi bersahut sahutan meminta raja yang lain.

Tak berapa lama, seekor burung bangau yang besar hinggap di tepi kolam. Sebuah mahkota emas berkilauan tampak di kepalanya. "Wahai kodok kodok, saya adalah raja kalian!" seru sang bangau dengan suara keras. Lalu dia berjalan cepat ke dalam kolam dan dengan cepat menelan para kodok itu secepat yang ia bisa.
Para kodok itu berlompatan lagi ketakutan, tapi kali ini mereka tidak bisa menghindari kecepatan paruh sang bangau.
"Oh kenapa, kenapa kita tidak memerintah diri kita sendiri saja?" seekor kodok bersedih hati.
Sang bangau itu makan hingga perutnya penuh, lalu dia terbang pergi. Tapi para kodok itu sekarang tak bisa berbicara karena begitu ketakutan. Mulai saat itu yang bisa mereka lakukan hanyalah mengeluarkan suara kodok ...dodododok...dododok.